Minggu, 17 Maret 2013

Mewujudkan Industri Berbasis Tebu Modern


Industri berbasis tebu di Indonesia, yang hadir sejak ratusan tahun silam, kini menghadapi tantangan perubahan. Kita pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia pada 1930-an. Produsen gula utama seperti Brazil, India, atau Thailand, dulu berada di bawah Indonesia. Tapi kini, negara-negara itu melampaui Indonesia. 

Tak bisa lagi industri ini hanya menjalankan bisnis secara biasa-biasa saja (business as usual). Harus ada imajinasi baru untuk mengantarkan industri padat karya ini ke gerbang kejayaannya. Kita ketahui bersama, industri tebu berperan penting menyangga kehidupan jutaan petani, pengemudi angkutan, karyawan pabrik, tenaga tebang, hingga penyedia sarana penunjang pertanian. 

Industri ini mempunyai dampak pengganda ke ekonomi lokal, terutama di wilayah perdesaan. Karena itulah, membangun kejayaan industri ini berarti juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. 
 
Strategi Terpadu
Industri ini pada 2012 memproduksi gula sebagai produk utama sekitar 2,6 juta ton. Angka tersebut sejatinya di bawah target pemerintah. Meski demikian, angka 2,6 juta ton itu patut disyukuri karena produksi gula dalam beberapa tahun terakhir ini jarang menembus angka 2,5 juta ton.

Lantas bagaimana prospek pencapaian swasembada gula nasional pada 2014? Sekian tahun lamanya, produktivitas industri ini stagnan. Padahal, di sisi lain, konsumsi gula terus meningkat mengikuti pertumbuhan ekonomi dan pertambahan jumlah penduduk.

Kini, kita tak bisa lagi hanya bicara peningkatan produktivitas semata. Swasembada gula jangan hanya dibatasi dalam konteks pemenuhan produksi gula, tapi bagaimana ikhtiar kita membangun industri berbasis tebu (sugarcane based industry) yang terintegrasi.

Membangun industri berbasis tebu hanya fokus ke pendekatan produksi gula, sesungguhnya kita hanya sedang membawa industri ini jalan di tempat, karena tak ada nilai tambah berarti. Kita tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang besar jika tak mempunyai pikiran besar.

Diperlukan strategi terpadu berupa efisiensi, optimalisasi dan diversifikasi agar industri ini bisa memberi nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional. Dalam hal ini, diversifikasi harus menjadi kata kunci. 

Diversifikasi
Diversifikasi hanya bisa dilakukan jika efisiensi dan optimalisasi sektor budidaya (on-farm) dan pengolahan pabrik (off-farm) sudah berjalan baik untuk meningkatkan produksi gula guna mencapai swasembada. Artinya, diversifikasi sama sekali tidak mengganggu misi utama pencapaian swasembada gula. Tanpa efisiensi dan optimalisasi, diversifikasi tak bisa dilakukan karena hilirisasi membutuhkan ketersediaan pasokan tebu dan kinerja mesin yang prima. 

Mengapa diversifikasi harus dilakukan? Sebagai komoditas yang highly-regulated, industri tebu bersifat kompleks. Di satu sisi, biaya produksi gula terus menanjak seiring kenaikan harga tebu dari petani dan peningkatan upah. Di sisi lain, harga gula tak bisa dibentuk pada level yang menjanjikan margin memadai, karena faktor daya beli konsumen dan intervensi pemerintah. 

Hal itu membuat margin pengusahaan gula tidak mencukupi mendukung upaya memperluas lahan maupun membangun pabrik baru. Kondisi serupa juga dialami oleh negara-negara produsen gula di dunia, sehingga di banyak negara, diversifikasi menjadi hal yang sangat diprioritaskan. Dari sisi manajemen risiko, diversifikasi juga bermanfaat mengurangi risiko produksi dalam rangka pengusahaan tebu secara menyeluruh. 

Tebu tidak hanya bisa diolah menjadi gula, tapi juga berbagai produk lain yang punya nilai ekonomi tinggi. Selain bisa menghasilkan gula dalam jumlah optimal, di industri berbasis tebu modern, setiap satu ton tebu bisa memproduksi listrik 100 kilowatt yang bersumber dari ampas tebu (program cogeneration); 12 liter bioetanol dari tetes tebu dan 40 kilogram biokompos dari limbah padat tebu. Limbah bioetanol bahkan juga bisa kembali diolah menjadi listrik. Itu belum termasuk produk hilir lainnya yang sangat potensial untuk dikembangkan. 

Sayangnya, di Indonesia diversifikasi belum menjadi perhatian serius. Memang banyak industri koproduk tebu, namun mayoritas dimiliki perusahaan yang sama sekali tak bergerak di bisnis pengolahan tebu. Industri tebu hanya menjual bahan olahannya tanpa bisa mendapat nilai tambah yang optimal.

Secara nasional, berdasarkan kajian tim independen, dengan lahan sekitar 473 ribu hektar dan potensi 38 juta ton tebu, potensi bisnis dari diversifikasi yang bisa diperoleh adalah surplus power sebesar 3.800 GWH, bioetanol 460.000 kiloliter, dan biokompos 1,5 juta ton.

Dengan mengambil contoh pada 33 pabrik gula di Indonesia yang dikategorikan berteknologi ”usang”, investasi yang dikeluarkan untuk mengoptimalkan potensi diversifikasi adalah US$ 1,585 miliar dengan potensi penerimaan US$ 260,5 juta per tahun, sehingga pay back period selama enam tahun.
 
Potensi Diversifikasi
Berdasarkan kajian di lingkungan PTPN X yang saya pimpin, potensi pendapatan diversifikasi bisnis (bioetanol, listrik, biokompos) Rp 1,7 triliun. Payback period selama 3 tahun – 5 tahun. Potensi pendapatan yang besar ini bisa dikelola untuk ekspansi sektor on-farm dan off-farm, sehingga bisa menopang peningkatan produksi gula sebagai komoditas pangan bagi masyarakat. Bisa dikatakan, dengan diversifikasi kita juga membuka jalan bagi peningkatan produksi gula untuk mencapai swasembada.

Brazil adalah contoh negara yang sukses mengoptimalkan produk turunan tebu dengan bertransformasi dari negara yang mengimpor hampir 80% kebutuhan minyaknya menjadi pelopor pemakaian energi terbarukan. Industri berbasis tebu menyumbang sekitar 18% dari total kebutuhan energi di Brazil.

Untuk bisa melakukan diversifikasi produk tersebut, syarat utama adalah membangun agribisnis tebu dengan memadukan kecanggihan sektor industri yang berdaya saing dan sektor pertanian yang tangguh. Spirit diversifikasi dan energi terbarukan harus menjadi semangat nasional agar potensi ekonomi tebu bisa dimaksimalkan untuk menopang kebutuhan energi nasional dan menyejahterakan masyarakat. (*)

Subiyono
Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi),
Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X (Persero)
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/41639/Mewujudkan-Industri-Berbasis-Tebu-Modern

Rabu, 09 Mei 2012

Pembangunan Kebun Bibit Tebu asal Kultur Jaringan

Pada tahun 2011 lalu, di Jawa Tengah, di beberapa daerah mulai diadakan kegiatan Pembangunan Kebun Bibit Tebu asal kultur jaringan. Bahan tanam yang dipakai adalah bibit generasi 2 yang berasal dari perbanyakan tebu secara kultur jaringan yang dipesan dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) di Pasuruan, Jawa Timur. Bahan tanam ini dikenal dengan istilah G2. Bibit yang digunakan berupa budset bagal mikro mata 1 dengan kebutuhan untuk 1 Ha sebanyak 30.000 mata tunas (sudah termasuk bahan untuk tanaman sulam).

Bibit G2 varietas PS 881 dari P3GI Pasuruan

Tahapan dalam pelaksanaan Pembangunan Kebun Bibit Tebu asal Kultur Jaringan meliputi :

1. Pemilihan lokasi lahan untuk pendederan maupun untuk Kebun Bibit
    Syarat lahan yang akan digunakan untuk kegiatan ini adalah : subur, berpengairan, lokasi strategis/dekat jalan
Calon lahan di Ds.Pladen Kec.Jekulo Kudus

Calon lahan di Ds.Papringan Kec. Kaliwungu Kudus



2. Bibit/benih G2 harus diaklimatisasi terlebih dahulu dengan pendederan di bedengan atau polybag selama 1,5 - 2 bulan sebelum ditanam di Kebun Bibit.
 
 * Polybag ukuran 10 x 12,5 cm


 * Media berupa campuran tanah : pasir : kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (bila tidak ada kompos, bisa menggunakan campuran tanah : pasir : pupuk dengan perbandingan 3 : 1 : 4 kg/m3)



atau


Pengisian Polybag bisa dilakukan siapa saja, asalkan diberi arahan sesuai petunjuk teknis

 * Setelah tiba di lokasi, benih G2 sebisa mungkin segera ditanam dalam polybag (maksimal 3 hari dari saat pengiriman dari P3GI). Bila tidak segera ditanam, benih dibuka dari besek, tetapi masih dalam wadah waring dan diangin-anginkan sebelum ditanam/diletakkan di tempat teduh.

Bibit G2 dari P3GI dikemas dalam besek, @ 600 - 1000 mata tunas tergantung besar-kecilnya  G2

G2 dikeluarkan dari besek tapi masih dalam waring / kasa
  * Sebelum ditanam, G2 direndam dalam larutan Za 3,6 gr/liter air selama 30 - 45 menit
Pencampuran Za dalam air dilakukan oleh Petugas Lapang dari P3GI saat mendampingi petani Kab.Kudus 

perendaman dalam Larutan Za 3,6 gr/liter, G2 masih dalam waring

 * Sebelum ditanam, dilakukan sortasi bibit terlebih dahulu. Mata tunas yang mati/busuk tidak ikut ditanam. Benih ditanam dengan mata tunas menghadap ke atas.

Bibit disortasi terlebih dahulu sebelum tanam

Petugas lapang P3GI memberikan arahan petunjuk teknis penanaman G2, jangan sampai terbalik 

Petani, Petugas Dinas, PG, dan Tenaga pendamping turut berpartisipasi 

Saat penanaman G2 ke Polybag dibutuhkan tenaga yang terampil dan telaten

Hasil penanaman G2 

  * Setelah bibit tertanam segera dilakukan penyiraman. Dalam masa pemeliharaan, bibit disiram minimal 2 hari sekali (tergantung kondisi cuaca). Pada intinya jangan sampai bibit tersebut kekurangan air dalam masa pertumbuhannya.
Penyiraman menggunakan gembor minimal 2 hari sekali (tergantung cuaca)

  * Pada umur 10 HST (10 hari setelah tanam), dilakukan pemupukan dengan larutan Za 3,6 gr/liter
bibit mulai berkecambah/bertunas pada umur 1 MST (minggu setelah tanam)

Varietas PS 881 dan GMP II umur 2 MST di Ds. Rejosari Kec. Dawe Kudus

Varietas Cenning umur 1 MST di Ds. Sadang Kec.Jekulo Kudus

Tenaga Pendamping harus benar-benar mengawal keberhasilan program/kegiatan ini

Selasa, 08 Mei 2012

RENUNGAN : GULA DAN TEBU "habis manis sepah dibuang"


Apakah Anda Menyukai Tebu Atau Gulanya?

“Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya para sepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih?
Add caption



Meski bukan daerah penghasil gula, namun di rumah masa kecil saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Kami menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu? Kami mengungahnya. Rasa manis memenuhi mulut kami. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut kami sekarang hanya tertinggal ampas. Kami meludahkan ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang.

Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? Kita sering menggambarkan hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Itu mengindikasikan bahwa ini adalah saatnya untuk mengubah paradigma tentang hidup. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki paradigma hidup itu; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1.   Jadilah pemanis kehidupan.

Disekitar kita begitu banyak orang yang suka minum kopi. Tetapi, saya hampir tidak pernah mengenal orang yang minum kopi tanpa gula. Bahkan sekalipun kita menyebutnya ‘kopi pahit’, ternyata ya menggunakan gula juga. Mengapa gula selalu ada dalam setiap cangkir kopi yang disajikan? Karena gula membuat rasa pahit pada kopi terasa menjadi manis. Anda yang mengetahui rasa asli kopi tentu tahu jika sebenarnya kopi itu mirip arang. Karbon yang tersisa dari benda hangus. Makanya rasanya tidak benar-benar enak.

Tetapi, ketika kedalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula; tiba-tiba saja kita menikmatinya. Bahkan menjadikannya sebagai minuman favorit. Bayangkan jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita tidak akan lagi harus disiksa oleh rasa pahit itu. Bahkan boleh jadi, kita menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan rintangan. Kita masih bisa tersenyum ditengah terpaan angin cobaan. Dan kita masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.

2.   Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti.

Ditempat tidur saya tiba-tiba saja banyak sekali semut. Setelah diperiksa, ternyata ada sisa-sisa gula dari kue kering yang kami makan bersama anak-anak. Ternyata benar; ada gula, ada semut. Para semut tidak lagi memperdulikan lokasi dan situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong beriringan. Ini tidak hanya benar bagi para semut. Coba saja perhatikan orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan.

Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka. Kita? Sesekali orang lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh. Tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya ya? Mereka malah mengira seolah kita ini tidak ada. Sekalipun kita sudah menyodor-nyodorkan wajah kita. Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi juga tidak ditanggapi. Barangkali, karena kita belum bisa menjadi pribadi yang manis bagi mereka. Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis.

3.   Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang.

Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. Saya mengenal seorang eksekutif senior yang mumpuni. Setelah memasuki masa pensiun dari jabatanya yang tinggi, saya pikir beliau akan menjadi seperti ‘tebu-tebu’ yang lainnya. Ternyata saya keliru. Perusahaan kemudian memperpanjang masa kerjanya dengan system kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. Lalu beliau ditarik lagi oleh perusahaan lainnya.

Bagi saya, beliau inilah salah satu living legend mereka yang tidak pernah membiarkan dirinya ‘kehilangan rasa manis’. Meski usianya sudah jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis. Rasa manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.

4.   Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan.

Sekarang, cobalah ambil sesendok gula terbaik yang Anda miliki. Lalu suapkan sesendok gula itu kedalam mulut Anda, dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang pun bisa melahapnya terlalu banyak. Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin.

Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak. Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan. Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah Anda. Tahukah Anda apa yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya? Hmmmh, Anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri Anda sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.

5.   Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah.

Sepah di kebun tebu kami jumlahnya tidak terlalu melimpah. Namun jika dibiarkan tetap saja menjadi sampah. Kami punya banyak pilihan untuk memperlakukannya. Jika kami membuangnya ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menambah nutrisi pada pupuk kandang yang kami dapatkan. Jika kami membuangnya ke kolam ikan, maka dia akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan. Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah.

Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah. Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Kita boleh berharap itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan.

Beruntunglah kita yang percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan; bahwa fitrah kita adalah untuk mempersiapkan tempat pulang alam keabadian.

Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang Anda harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.



Senin, 07 Mei 2012

DESKRIPSI VARIETAS TEBU TERBARU

Berikut ini kami sajikan varietas - varietas tebu terbaru yang belum banyak dikembangkan di Jawa Tengah. Varietas - varietas ini bisa menjadi pilihan alternatif petani tebu untuk menggantikan dominansi varietas BL 579 di Jawa Tengah, terutama di daerah pantura timur.

1. CENNING




2. GMP 1

 3. GMP 2


4. KIDANG KENCANA

5. PS 851

6. PS 861

7. PS 862


8. PS 863


9. PS 864


10. PS 921


11. PSBM 901

12. PSCO 902

13. TLH 1
14. VMC 76-16